Showing posts with label kampus. Show all posts
Showing posts with label kampus. Show all posts

Friday, June 28, 2013

Semester Enam yang Khatam

Sastra Arab FIB UGM 2010
Selama tiga tahun ini, saya bukanlah sosok yang dekat dengan hidup mereka. Saya kerap sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan (atau mereka tidak mengerti apa yang saya bicarakan?). Saya lebih sering sibuk dengan diri saya sendiri. Meskipun demikian, dibalik ketidakdekatan kami, saya rasa mereka harus tahu bahwa saya selalu sayang mereka, sungguh, tanpa terkecuali.

Monday, March 4, 2013

Just Hope and Prepare

ini derap harap untuk kelangsungan studi strata 1 saya.
November 2013 >> WISUDA

Thursday, February 21, 2013

Menyemai Harapan

Boleh jadi, ini semester terberat yang akan saya lalui. Sampai di titik ini saya memutuskan mempercepat waktu studi saya. Itu berarti saya harus berjuang mati-matian untuk bisa mencapai target wisuda November tahun ini. Ini semester pembuktian, semester penuh harapan. Baru juga mulai sudah terasa demikian berat. Tapi tak apa. Bukankah semakin tinggi pohon maka angin yang bertiup juga akan semakin kencang? Demikian juga semakin tinggi semester di mana kamu berada semakin berat hari-hari yang akan kamu lalui. Saya memang seorang yang bisa dikatakan study oriented. Beberapa kali IP saya nyaris mencapai sempurna, 4,00. Dan semester lalu adalah semester terburuk yang pernah saya alami. IP saya turun drastis. Saya terima. Sangat terima malah. Saya berdamai dengan portal akademik untuk kesemua itu. Saya tidak akan menyalahkan hal-hal di luar diri saya. Sungguh kalaupun prestasi saya menurun itu karena saya sendiri. Siapapun boleh mencela saya karena pilihan untuk study oriented. Bagi saya prestasi akademik adalah suatu keharusan. Apalagi mengenakan selempang cum laude di saat wisuda nanti. Itu mutlak bagi saya. 

Setiap orang memiliki pilihan sendiri dalam hidupnya. Termasuk saya. Saya memilih untuk berorientasi pada studi saya di semester ini. Dengan sepenuh hati saya niatkan untuk menyelesaikan jenjang strata 1 pada akhir tahun ini, November 2013. Saya tahu akan ada banyak terpaan badai mengguncang saya nantinya. Saya hanya tahu saya pasti bisa melewatinya, sekeras apapun itu. Saya niatkan kelulusan saya akan menjadi hadiah ulang tahun ibunda saya yang ke-51. Niat baik akan berakhir baik pula. Maka, semailah harapan sebaik-baiknya. Tuhan tidak akan kemana-mana. Ia selalu bersama orang baik dengan niat baik pula. 

Sunday, January 20, 2013

Ya Sudahlah...

Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud,
Ya sudahlah...

Barangkali ini kalimat yang tepat untuk saya, emm (calon) tim KKN saya tepatnya. Sejak beberapa bulan lalu kami sudah sering mengumpulkan otak untuk sebuah misi mulia. KKN. Singkirkan dulu tentang hal-hal yang kerap melekat dengan KKN seperti pertanyaan "mau KKN atau wisata?" atau yang lebih parah "mau KKN atau nyari jodoh?". Bagi saya KKN bukan sekedar bertamasya ria atau ajang mencari jodoh. Saya serius ingin mengamalkan tri darma perguruan tinggi. Saya ingin mengabdi walau hanya dengan 3 SKS ini. Namun, sepertinya LPPM Tuhan belum merestui misi mulia yang sudah tersusun lama dalam benak saya. Kemujan sepertinya tinggal kenangan. 

Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai,
Ya sudahlah...

Saya yakin selalu ada jalan lain bagi mereka yang teguh memegang mimpinya. Saya yakin niat baik pasti akan berakhir baik pula. Meskipun saya tidak tahu apa jadinya KKN saya nantinya, di mana saya akan ditempatkan, dan dengan siapa saya menyukseskan 3 SKS ini. Tapi saya selalu percaya, ketika harapan masih berpendar dalam hati, ketika jiwa dan raga masih berusaha, dan lisan senantiasa berdoa, selama itu pula kenyataan akan di depan mata. 

Sampai sekarang saya masih berdoa agar LPPM Tuhan mengabulkan setiap pinta saya. Saya ingin mengabdi di Kemujan seperti mereka dan mereka. Dan terakhir, saya percaya Harya Banirfan adalah kormanit terbaik sejagat raya dan Devalana Permatasari Mushollini adalah kormasit terkeren sealam dunia. Saleum =D

Tuesday, January 15, 2013

Tumpahan Air

Kali ini bukan hanya tumpahan morfem saja, tumpahan air kawan. Saya menggunakan makna denotasi di sini. Hujan. Ya, hujan. Setelah beberapa hari lalu mendung Yogyakarta diculik badai narelle kini ia kembali lagi. Selalu ada sepermilidetik senyap yang menyergap ketika hujan datang. Saya terdiam pada sepermilidetik itu. 
Bagi saya hujan adalah tentang mengenang masa lalu. Begitu air tumpah dari langit, memori di masa lalu kerap kali berkunjung ke otak saya. Seperti sekarang. Salah satu memori yang muncul di kepala saya adalah masa-masa menjadi panitia. Dan saya akui, saya rindu menjadi panitia. Bodoh sekali bukan?
Sejak tahun pertama saya kuliah, saya belum pernah se-selo ini. Saya tak lagi mengurus ini-itu di kampus. Bahkan saya sudah lupa bagaimana membuat proposal, surat, timeline, rundown, dan segala tetek bengek acara kepanitiaan. Saya hanya diam di kamar memandangi hujan. Selo. Selo sekali hidup saya. Pernah saya mengutuk rutinitas super itu, ketika saya didera kesibukan bertubi-tubi. Tapi kini, saya menyesal mengutuknya. Saya rindu.
Ah, hujan memang selalu punya sihir untuk membangkitkan kenangan. 
*dalam keseloan yang tak terperi

Thursday, December 6, 2012

Lelah

Saya tahu saya lelah, tapi saya tidak boleh kalah. Saya lelah dihampiri lara, dikuntiti kecewa, dan didustai rasa. Tapi di satu sisi saya bersyukur pada Tuhan Yang Maha Syakur. Lelah adalah pertanda saya masih dicintai, perlambang bahwa saya hidup. Berbulan-bulan saya tidak menumpahkan morfem ini. Ada yang mengganjal dan ada yang tertinggal. Saya ingin menuntaskannya. Saya ingin mengkhatamkannya dengan baik. Tumpaham morfem ini melewatkan kepingan memori dari otak saya, tapi sungguh saya masih menyimpan kepingan itu dalam otak dan relung hati saya. Kelelahan saya memang menumpuk, tapi kebahagiaan saya tak sekalipun lapuk.

Thursday, August 2, 2012

Kecewa



Saya memendam kecewa kepada kamu, bertubi-tubi kecewa, bertumpuk-tumpuk, menggunung-gunung, meledak-ledak. Pecah sudah pendaman kecewa saya. Saya lelah dikecewakan oleh kamu. Saya ingin sekali saja tidak lagi kamu kecewakan. Tapi apa kamu tahu?

Saya juga menggunung tangis, tapi kali ini maaf, gunungan tangis saya longsor sudah. Kamu berhasil membobolnya. Saya lelah dibuat menangis oleh kamu. Saya ingin sekali saja tidak lagi kamu buat menangis. Tapi apa kamu bisa?

Apa kamu tahu saya kecewa?
Apa kamu tahu saya menangis?
Apa kamu tahu saya selelah ini menahan kecewa dan tangis?
Sayangnya tidak.